Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tips Traveling: Gunung Karang, Sang Raksasa Tidur dari Pandeglang

Tips Traveling: Gunung Karang, Sang Raksasa Tidur dari Pandeglang
credit:instagram@raksabanten

Salah satu gunung berapi aktif di Jawa Barat adalah Gunung Karang, terletak di Kabupaten Pandeglang, sekitar 20 km sebelah selatan kota Serang. 

Tidak ada sejarah letusan yang bisa ditemukan, namun data arkeologis memasukkan gunung ini ke dalam kelompok gunung stratovolcano yang memiliki potensi meletus.

Memiliki puncak setinggi 1.778m dpl, lebih dikenal sebagai gunung wisata ziarah. Pada bulan-bulan tertentu, biasanya bulan Maulid (Rabiul Awal), jumlah pengunjungnya melonjak tajam. 

Mereka kebanyakan peziarah yang ingin menziarahi petilasan Tb Jaya Raksa, sesepuh Kerajaan Banten yang terletak di Desa Kaduengang.

Melihat Gunung Karang yang terbaring diam di Pandeglang, tak berlebihan jika kita menjulukinya sebagai raksasa yang tengah tertidur tenang, dengan berbagai potensi yang terpendam dalam. Bukan saja karena potensi letusan sebagai gunung berapi aktif, namun juga potensi wisata yang masih belum tergali secara maksimal.

Potensi Wisata Gunung Karang

Tips Traveling: Gunung Karang, Sang Raksasa Tidur dari Pandeglang
credit:instagram@bektihanda

Sejak terbentuknya Provinsi Banten, pemerintah setempat menggalakkan promosi wisata. Dan, Gunung Karang menjadi salah satu objek wisata yang diharapkan mampu menarik wisatawan dengan potensi wisata spiritual yang dimilikinya.

Sebelumnya, wisata Banten bertumpu pada kawasan wisata spiritual peninggalan Sultan Banten yang terletak di Banten Lama, Kabupaten Serang. Di tempat itu, para wisatawan biasanya mengunjungi Benteng Surosowan, Masjid Agung, Klenteng Kuno, dan kompleks makam keluarga Sultan Hasanudin.

Adalah hal yang tepat apabila pemerintah setempat menggalakkan promosi Gunung Karang sebagai kawasan wisata bergengsi, sebab gunung ini memiliki ragam objek kunjungan. Tiga objek utama wisata Gunung Karang adalah Sumur Tujuh, kolam renang Cikoromoy, dan pemandian air panas Cisolong.

Batu Quran

Dari ketiga objek kunjungan wisata Gunung Karang, yang paling banyak menarik wisatawan adalah kolam renang Cikoromoy. Daya tarik kolam renang ini adalah sebongkah batu besar di dasar kolam yang memiliki ukiran huruf Arab, dan diperkirakan telah berusia lebih dari 500 tahun. 

Sebagian orang percaya bahwa dengan berendam di dalamnya akan mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Batu Quran yang lebarnya hanya sekitar dua meter dan diapit beberapa sumber mata air itu diyakini merupakan peninggalan Ki Mansyur, kerabat Raja Banten yang menjadi ulama. Ki Mansyur sangat cakap dalam ilmu pertanian dan piawai dalam olah seni yang dijadikannya media menyebarkan agama Islam.

Jalur Pendakian

Tips Traveling: Gunung Karang, Sang Raksasa Tidur dari Pandeglang
credit:instagram@mizanpahmi

Untuk mencapai puncak Gunung Karang, selama ini dikenal dua jalur pendakian. Jalur pertama biasa disebut jalur Kaduengang. Dengan menempuh jalur ini, diperlukan sekitar 4-5 jam untuk mencapai puncak Gunung Karang.

Jalur kedua adalah jalur Pager Watu atau Ciekek. Jalur ini lebih landai dibandingkan jalur Kaduengang, namun memerlukan waktu tempuh yang lebih lama, yaitu sekitar tujuh jam. Karena itu, jalur Pager Watu tidak begitu populer di kalangan para pendaki.

Di jalur Kaduengang, terdapat petilasan Tb Jaya Raksa. Sebelum melanjutkan pendakian, biasanya para wisatawan menyempatkan diri berziarah ke sini. Barulah setelah itu menuju ke Pos Pendakian 2 yang memakan waktu sekitar satu jam.

Dalam perjalanan menuju Pos Pendakian 2, wisatawan bisa menikmati pemandangan Selat Sunda dan samar-samar terlihat anak Gunung Krakatau.

Sebelum mencapai Pos Pendakian 3, sebelumnya melewati Batas Vegetasi Hutan. Selepas Pos Pendakian 3, akan ditemukan persimpangan; ke kiri menuju Sumur Tujuh, dan ke kanan menuju Curug Nangka. 

Dengan melanjutkan perjalanan mengikuti jalur ke kiri, sampailah di Sumur Tujuh, di Puncak Gunung Karang.

Post a Comment for " Tips Traveling: Gunung Karang, Sang Raksasa Tidur dari Pandeglang"